Ragam  

Memahami Perbedaan Antara Baby Blues dan Depresi Postpartum

Ilustrasi Baby Blues | Foto: Freepik.com

Jakarta, tiradar.id – Dalam diskusi kesehatan daring di Jakarta, dr. Danti Filiadini Sp. KJ, seorang dokter spesialis Kesehatan Jiwa dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RS UI), menjelaskan perbedaan antara kondisi baby blues dan depresi postpartum. Menurutnya, perbedaan utama terletak pada lamanya durasi kesedihan yang dialami oleh ibu setelah melahirkan.

Baby blues, dikatakan Danti, memiliki durasi kurang dari dua minggu, sehingga bersifat sementara. Sebaliknya, depresi postpartum memerlukan durasi lebih dari dua minggu, yang ditandai dengan kesedihan dan suasana hati yang depresi yang tidak mudah mereda.

Sayangnya, depresi postpartum sering tidak terdiagnosis karena ibu baru melahirkan cenderung menutupi gejala yang mereka alami. Mereka khawatir terlihat lemah atau tidak mensyukuri memiliki keturunan.

Selain itu, tekanan dari orang sekitarnya yang membandingkan anaknya dengan yang lain dan mengkritik keadaan ibu setelah melahirkan juga dapat membuat kondisi ini sulit dideteksi.

Danti menekankan bahwa hormon-hormon dalam tubuh ibu setelah melahirkan tidak stabil dan rentan mengalami depresi jika perasaan-perasaan tersebut dipendam. Hal ini dapat berdampak negatif tidak hanya pada diri ibu, tetapi juga pada anak dan orang sekitarnya.

Gejala depresi postpartum meliputi hilangnya minat pada kegiatan sehari-hari, gangguan tidur, gerakan yang lambat atau gelisah, lesu sepanjang hari, gangguan konsentrasi, dan pikiran untuk mengakhiri hidup berulang kali.

Danti menjelaskan bahwa jika ada setidaknya lima gejala ini selama dua minggu dengan adanya distress dan disfungsi dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikategorikan sebagai depresi postpartum.

Dalam kasus depresi postpartum, motivasi untuk beraktivitas menurun, emosi meledak-ledak, sulit dikendalikan, dan fokus untuk mengurus anak menjadi terganggu. Ini dapat berdampak negatif pada pemberian ASI, aktivitas sehari-hari, dan kesehatan anak.

Danti mengingatkan bahwa timbulnya depresi postpartum tidak selalu tiba-tiba. Depresi dapat dimulai mulai dari satu bulan setelah persalinan hingga satu tahun pertama. Sementara baby blues, munculnya langsung sekitar dua hingga tiga hari setelah persalinan.

Perlu diingat bahwa stres dan depresi yang dialami oleh ibu melahirkan memiliki perbedaan dengan orang yang tidak sedang hamil. Selama kehamilan, tanda-tanda gejala dapat muncul empat minggu setelah persalinan dan bertahan selama enam hingga delapan minggu, bahkan bisa bertahun-tahun jika tidak mendapat penanganan yang sesuai.

Dalam penutupannya, dr. Danti Filiadini Sp. KJ menyampaikan bahwa prevalensi ibu yang mengalami depresi postpartum lebih sedikit daripada baby blues, namun kondisinya lebih berat dan memerlukan penanganan menyeluruh.

Dengan angka kejadian depresi postpartum mencapai satu dari tujuh wanita, Danti mengingatkan bahwa penyaringan secara online melalui Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dapat dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang mengalami depresi postpartum.

Ia juga menekankan pentingnya berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan mendapatkan dukungan mental yang diperlukan. Ibu yang baru melahirkan dan keluarga diharapkan tidak melakukan diagnosis mandiri, tetapi selalu terbuka untuk berbicara dan mencari bantuan jika diperlukan.