Ragam  

Menelisik Hubungan Antara Stress dan Impotensi Serta Cara Pencegahannya

Ilustrasi stress dan impotensi | jcomp (freepik)

Jakarta, tiradar.id – Impotensi, atau disfungsi ereksi (DE), merupakan masalah yang sering kali dihubungkan dengan pria di atas usia 20 tahun.

Salah satu penyebab umumnya adalah stres, yang dapat memengaruhi kemampuan pria untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi selama berhubungan seksual.

Ereksi pada pria dapat dipicu oleh tiga faktor utama, yaitu refleksif (rangsangan fisik), psikogenik (visual atau mental), dan nokturnal (saat tidur). Gangguan pada salah satu faktor ini dapat menyebabkan impotensi.

Otak memiliki peran penting dalam mengontrol ereksi, mengirimkan sinyal ke sistem saraf, pembuluh darah, otot, hormon, dan emosi. Stres dapat mengubah cara otak memberikan sinyal pada respons fisik tubuh, mengganggu aliran darah yang diperlukan untuk ereksi.

Beberapa kondisi stres yang dapat menyebabkan impotensi antara lain:

  1. Kegugupan dan Kecemasan: Stres yang menyebabkan kegugupan dan kecemasan dapat mempengaruhi sekitar 90 persen remaja dan pria muda, meskipun umumnya berlangsung singkat.
  2. Masalah Hubungan Pribadi: Stres akibat masalah hubungan dengan pasangan dapat menyebabkan disfungsi ereksi pada pria paruh baya.
  3. Kesepian dan Kehilangan Pasangan: Stres psikologis akibat kesepian dan kehilangan pasangan pada pria lanjut usia dapat menyebabkan impotensi fisik.

Peristiwa kehidupan tertentu seperti kehilangan pekerjaan, masalah hubungan, penyakit, atau kehilangan orang yang dicintai juga dapat menjadi pemicu stres yang berujung pada impotensi.

Sebuah studi pada veteran dengan gangguan stres pasca trauma (PTSD) menunjukkan bahwa PTSD dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi lebih dari tiga kali lipat.

Langkah-langkah penanganan yang direkomendasikan untuk mengatasi impotensi akibat stres melibatkan terapi, antara lain:

  1. Konseling: Terapis membantu mengidentifikasi dan mengatasi faktor stres atau kecemasan agar dapat dielola dengan baik.
  2. Terapi Psikodinamik: Terapi ini menangani konflik bawah sadar untuk menemukan akar penyebab disfungsi ereksi.
  3. Terapi Seks: Fokus pada kenikmatan sensasional daripada gairah dan aktivitas seksual, bertujuan mengurangi faktor stres dengan membangun kehidupan seks yang lebih baik.
  4. Terapi Kecemasan Seksual: Dokter memberikan penjelasan lengkap mengenai DE untuk membantu mengurangi masalah dan kekhawatiran yang timbul akibat kurangnya pengetahuan.

Mencegah DE juga dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, seperti yang dibahas dalam artikel “Ini 5 Pola Hidup Sehat untuk Mencegah Impotensi.”

Dengan menyadari fakta tentang hubungan antara stres dan impotensi, diharapkan individu dapat mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater untuk mengatasi stres dan mempertahankan hubungan romantis yang sehat dengan pasangan.