Ragam  

Mengenal Perbedaan Flu Singapura dengan Penyakit Lain

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Nina Dwi Putri, Sp.A(k), M.Sc mempresentasikan ruam HFMD dalam diskusi daring bertajuk “Mengupas mitos dan fakta terkait Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD)” bersama Puskesmas Kramat Jati, Kamis (28/3/2024). ANTARA/tangkapan layar.

Jakarta, tiradar.id – Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) atau yang lebih dikenal sebagai Flu Singapura, ternyata memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan penyakit lain, meskipun gejalanya seringkali mirip.

Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo Sp.A(K), seorang Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, menjelaskan bahwa HFMD memiliki perbedaan yang jelas dengan sariawan biasa, meskipun keduanya dapat menyebabkan lesi di dalam mulut.

Menurut Edi, sariawan biasa hanya terjadi di dalam mulut dan memiliki kemiripan dalam wujudnya dengan HFMD. Hal ini seringkali membuat orang tua ragu untuk membawa anak mereka ke dokter anak, karena mereka mengira lesi yang terjadi di mulut hanya merupakan sariawan biasa. Namun, pada HFMD, lesi juga dapat muncul di sekitar mulut bagian luar dan bibir, serta dapat menyebabkan anak menjadi malas makan dan kesulitan menelan.

Selain mirip dengan sariawan, HFMD juga sering disamakan dengan penyakit lain seperti cacar air dan campak. Namun, Edi menegaskan bahwa HFMD memiliki perbedaan yang jelas dalam hal lokasi munculnya lesi. Cacar air, misalnya, cenderung muncul di badan sebelum kemudian keluar lesi, sedangkan HFMD paling sering muncul di telapak kaki, telapak tangan, dan mulut.

Edi juga menjelaskan bahwa lesi pada kulit akibat HFMD tidak akan menyebabkan bekas, berbeda dengan cacar air yang dapat meninggalkan bekas pada kulit. Hal ini dikarenakan lesi pada HFMD tidak sedalam lesi cacar air yang bisa menembus hingga lapisan kedua jaringan kulit.

Selain itu, perbedaan lainnya adalah HFMD tidak memberikan kekebalan bagi tubuh, sehingga seseorang dapat terkena kembali jika daya tahan tubuhnya menurun. Berbeda dengan cacar air atau campak yang setelah terkena, tubuh bisa membentuk kekebalan, sehingga jarang terkena lagi di kemudian hari.

Meskipun HFMD tergolong sebagai penyakit ringan yang bisa sembuh dalam tujuh hari, kasus HFMD di Indonesia terutama pada anak di bawah 6 tahun cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesadaran orang tua akan penyakit ini. Banyak orang tua yang tetap mengirim anak mereka ke sekolah meskipun anak mengalami demam dan muncul bintik merah, sehingga penyebaran HFMD menjadi cepat dan luas.

Edi menekankan pentingnya isolasi jika anak mengalami gejala HFMD seperti demam dan muncul bintik merah di telapak kaki, tangan, dan mulut. Isolasi ini penting untuk mencegah penyebaran HFMD kepada anak lain. Meskipun masa infeksius HFMD hanya 3-5 hari, isolasi tetap diperlukan hingga anak tersebut tidak lagi menular, yaitu sekitar 7 hari setelah munculnya lesi meskipun masih dalam tahap penyembuhan.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang perbedaan HFMD dengan penyakit lainnya, serta kesadaran akan pentingnya isolasi dan penerapan protokol kesehatan, diharapkan penyebaran HFMD dapat ditekan dan masyarakat dapat lebih waspada terhadap penyakit ini.