Ragam  

POGI Tegaskan Vaksin HPV Tidak Sebabkan Kemandulan, Pemerintah Dorong Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Petugas medis menyuntikkan vaksin dalam pelaksanaan percepatan imunisasi Human Papilomavirus (HPV) kepada pelajar di SMPN 28, Malang, Jawa Timur, Jumat (7/2/2025). Dinas Kesehatan setempat menggenjot pelaksanaan imunisasi HPV dengan sasaran 3.000 pelajar perempuan berusia 14-15 tahun yang ditargetkan tuntas pada bulan Februari 2025. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc

Jakarta, tiradar.id – Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Yudi Mulyana Hidayat, menegaskan bahwa isu yang menyebutkan vaksin human papillomavirus (HPV) dapat menyebabkan kemandulan atau menopause dini merupakan kabar bohong alias hoaks. Hal tersebut disampaikannya dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Selasa (24/6/2025).

“Terkait dengan apakah vaksin HPV itu dihubungkan dengan kemandulan dan lain sebagainya, dengan menopause dini dan sebagainya, itu boleh kita katakan hanya mitos. Tidak fakta,” tegas Prof. Yudi.

Ia menambahkan, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan bahwa vaksin HPV dapat berdampak negatif terhadap kesuburan maupun menyebabkan gangguan reproduksi lainnya. Sebaliknya, vaksin ini justru menjadi langkah penting dalam pencegahan kanker serviks yang banyak menyerang perempuan.

Prof. Yudi juga menjelaskan bahwa vaksin HPV sebaiknya diberikan setelah masa kehamilan atau pasca persalinan. Hal ini bukan karena vaksin berbahaya bagi janin, melainkan karena sistem kekebalan tubuh ibu hamil biasanya dalam kondisi lemah sehingga respons pembentukan antibodi dari vaksin menjadi tidak optimal.

“Pada ibu hamil itu sistem kekebalan tubuhnya sedang jelek, sehingga kalau kita berikan vaksin, nanti antibodinya tidak terbentuk secara maksimal,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa kematian akibat kanker serviks dapat dicegah melalui imunisasi HPV dan deteksi dini. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap infeksi virus HPV, yang menjadi penyebab utama kanker serviks.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, turut menyampaikan pentingnya vaksinasi dan pemeriksaan berkala. Menurutnya, kanker serviks termasuk jenis kanker yang dapat dicegah dan disembuhkan jika dideteksi sejak dini.

“Semakin dini ditemukan maka semakin tinggi angka kesembuhannya,” ujar Nadia.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak kedua di Indonesia. Setiap tahunnya, terdapat lebih dari 36.000 kasus baru yang terdeteksi, dan sekitar 70 persen di antaranya diketahui sudah berada pada stadium lanjut.

Untuk itu, pemerintah terus mendorong upaya promotif dan preventif melalui program vaksinasi HPV serta pemeriksaan leher rahim secara berkala guna menekan angka kejadian dan meningkatkan deteksi dini kanker serviks.