Sastra  

Konsentrasi, Salahsatu Kunci Bisa Baca Puisi

Subang, tiradar.id – Jum’at (8/11/2024) jam ditangan menunjukan pukul 16.00 Wib, di lantai 2 bangunan yang baru berdiri, karena tampak dari warna cat-nya yang masih baru, terdengar suara anak laki-laki dan anak perempuan berteriak-teriak.

Mereka tengah larut dalam permainan konsentrasi yang dipandu oleh Asep Kusmana, Wakil Ketua LESBUMI PCNU Subang. Ya, saat itu, Asep tengah melatih konsentrasi para santri Pondok Pesantren Al Ikhlas Raudlotul Uluum, Desa Tenjolaya, Kecamatan Kasomalang, Subang pada kegiatan Ngaji Sastra yang digagas oleh LESBUMI PCNU Subang.

“Konsentrasi, merupakan salahsatu kunci, agar kalian bisa membaca puisi,” ujar Asep kala itu.

Para santriwan dan santriwati yang duduk terpisah, dipasang-pasangkan dengan teman disamping mereka. Satu diantara mereka memasang satu tangan kedepan, sementara temannya memasang dua tangan.

“Kalau saya ucapkan mendekat, kedua telapak tangan dekatkan, kalau saya ucapkan menjauh, kedua telapak tangan jauhkan, dan kalau saya bilang tangkap, maka tangkap tangan kawan kalian,” seru Asep.

Sontak, permainan yang saat itu dipandu oleh Asep, membuat anak-anak, baik yang pria maupun Wanita, berteriak-teriak. Ada yang berteriak karena tangannya tertangkap, atau ada yang berteriak karena tidak dapat menangkap tangan kawannya.

Ya, saat itu juga, Asep melatih emosi dan ekspresi dari para santriwan santriwati. “Karena membaca puisi, harus menggunakan emosi dan ekspresi, jangan datar,” jelas Asep.

Ratusan santri yang hadir saat dilaksanakan Ngaji sastra, tampak menikmati pemaparan yang dilakukan oleh Asep, terkadang, Asep menyelipkan kata-kata puitis untuk mencontohkan hal yang tengah dipaparkannya, yang disambut suitan dari para santriwan dan teriakan histeris dari santriwati.

Selain Asep Kusmana, Kun “Deko” Kurniawan juga memberikan materi tentang hubungan sastra dan budaya. Dia juga menjelaskan definisi-definisi tentang sastra dan budaya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh para santriwan dan santriwati.

“Sastra adalah karya tulis yang memiliki nilai estetika dan ekspresi pikiran serta perasaan penulisnya,” ujar Kukun.

Saat itu, Kukun juga memberikan contoh yang sederhana dari hasil buah piker, yang berbentuk sastra, yakni kata-kata Mutiara.

“Senja memang tak seindah pelangi, tapi senja berjanji, esok pasti kembali,” ucap Kukun membalas puisi berjudul surat cinta karya WS Rendra yang dibacakan oleh salah seorang santriwati. Sontak hal ini membuat peserta yang hadir histeris.

Tak terasa, hampir dua jam berlalu, antusiasme para peserta yang mingikuti sesi ngaji sastra masih terasa, seperti tidak ada rasa jenuh mereka mengikuti setiap sesinya. Duduk di lantai keramik, menjadi asik, Ketika dua pemateri saling berbalas larik puisi.

Bangunan dengan luas sekitar 10 meter kali 30 meter tersebut, menjadi salahsatu saksi bisu, apabila dari pelatihan yang singkat tersebut, akan lahir para penyair dan sastrawan muda di Kabupaten Subang, dari pondok pesantren Al Ikhlas Raudhotul Uluum.

Ketua LESBUMI PCNU Subang, Agus Eko Muchamad Solihin berharap, Ngaji Sastra yang mengusung tema Keindahan Budaya dan Bahasa dalam Karya Sastra, dapat menjadi salahsatu pendorong semangat, bakat-bakat penyair dan sastrawan di Kabupaten Subang.

“Kami akan terus mendorong laju dan berkembangnya sastra di Kabupaten Subang, agar terus melahirkan karya-karya dan mampu melahirkan para sastrawan dan penyair hingga mampu berbicara di level internasional,” harap Eko. (****)