Jakarta, tiradar.id – Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal medis Spanyol, Revista Internacional de Andrología, telah mengungkapkan bahwa penggunaan rokok elektronik atau yang dikenal sebagai “vaping” dapat berdampak negatif pada kesuburan pria.
Studi ini mendokumentasikan bahwa vaping dapat menyebabkan penyusutan testis, mengurangi jumlah sperma, dan mengurangi gairah seks. Hasil penelitian ini memberikan wawasan yang penting tentang dampak kesehatan yang terkait dengan kebiasaan vaping pada manusia.
Untuk mencapai kesimpulan ini, para peneliti dari Universitas Sivas Cumhuriyet di Turki melakukan eksperimen pada tikus jantan. Mereka membagi tikus-tikus ini menjadi tiga kelompok: satu kelompok terpapar rokok biasa, satu kelompok terpapar vaping, dan satu kelompok kontrol.
Tikus-tikus dalam kelompok eksperimen diuji dengan memberikan mereka teknik pengasapan dua kali sehari selama satu jam. Selanjutnya, para peneliti mengevaluasi beberapa parameter, termasuk kadar cotinine dalam urin, berat testis, indeks gonadosomatik, jumlah sperma, motilitas sperma, dan histologi testis tikus-tikus tersebut. Hasilnya cukup mengkhawatirkan.
Ditemukan bahwa jumlah sperma pada kelompok tikus yang terpapar rokok elektronik sebanyak 95,1 juta sperma per mililiter, sementara kelompok yang terpapar rokok biasa memiliki sekitar 89 juta sperma per mililiter.
Di sisi lain, kelompok kontrol menunjukkan rata-rata 98,5 juta sperma per mililiter. Selain itu, kelompok yang terpapar asap rokok elektronik juga memiliki testis yang lebih kecil dan lebih ringan dibandingkan kelompok yang terpapar rokok biasa dan kelompok kontrol.
Lebih lanjut, lima dari delapan tikus yang terpapar vaping menunjukkan perubahan struktural pada testis mereka. Para peneliti menyoroti bahwa meskipun cairan dalam rokok elektronik dianggap sebagai alternatif yang lebih aman dibandingkan merokok tembakau konvensional, tetapi dapat meningkatkan stres oksidatif dan menyebabkan perubahan morfologi pada testis.
Studi ini mengingatkan kita bahwa penggunaan rokok elektronik, meskipun dianggap sebagai alternatif yang lebih aman, masih membawa risiko kesehatan yang serius. Rokok elektronik masih mengandung nikotin yang sangat adiktif dan beracun, serta bahan kimia berbahaya lainnya. Selain itu, senyawa organik yang mudah menguap dan agen penyebab kanker juga ditemukan dalam vaping.
Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa merokok tembakau secara teratur dapat memengaruhi kesuburan pria. Oleh karena itu, penting bagi mereka yang menggunakan rokok elektronik untuk menyadari dampak negatifnya pada kesehatan seksual dan kesuburan, serta mempertimbangkan alternatif yang lebih sehat jika ingin berhenti merokok sama sekali.
Vaping, yang melibatkan menghirup dan menghembuskan aerosol yang disebut uap, menggunakan perangkat elektronik genggam seperti rokok elektronik atau pena vape. Perbedaannya dengan rokok konvensional adalah tembakau tidak dibakar untuk menghasilkan asap, melainkan e-liquid dipanaskan untuk menghasilkan uap.
Dengan temuan penting ini, penting bagi masyarakat untuk lebih memahami risiko yang terkait dengan penggunaan rokok elektronik dan berpikir dua kali sebelum mengadopsi kebiasaan ini. Kesehatan seksual dan kesuburan adalah aspek penting dalam kehidupan seseorang, dan menjaga keduanya harus menjadi prioritas.


