Ragam  

Dampak Tramadol pada Remaja: Meningkatkan Risiko Tawuran dan Ketergantungan

Jakarta, tiradar.id – Praktisi kesehatan masyarakat dr. Ngabila Salama mengungkapkan bahwa obat tramadol, yang termasuk dalam golongan obat daftar G, dapat berkontribusi pada kecenderungan remaja terlibat dalam tawuran atau perkelahian. Menurut dr. Ngabila, tramadol memiliki efek samping yang dapat meningkatkan agresivitas serta menyebabkan adiksi, yang berdampak negatif pada perilaku remaja.

Tramadol adalah obat analgesik yang biasa digunakan untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat. Namun, obat ini memiliki efek samping yang mirip dengan narkoba karena memengaruhi sistem saraf pusat. Penggunaan tramadol dalam dosis tinggi atau jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis, yang menambah risiko perilaku agresif pada penggunanya. Ketika efek obat mulai hilang, pengguna sering kali merasa gelisah atau frustrasi, yang bisa memicu perilaku agresif dan meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik, baik dengan keluarga maupun teman.

Selain menyebabkan ketergantungan dan agresivitas, tramadol juga dapat menyebabkan halusinasi dan gangguan kognitif yang menurunkan kemampuan belajar, daya ingat, serta konsentrasi. Hal ini berpotensi memengaruhi prestasi sekolah dan perkembangan akademik remaja. Pengaruh buruk ini semakin berbahaya pada remaja, mengingat usia mereka yang masih dalam tahap perkembangan fisik dan emosional. Pada tahap ini, remaja cenderung lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar dan lebih tertarik untuk mencoba hal baru tanpa memahami risikonya.

Remaja juga kerap menghadapi tekanan sosial yang bisa mendorong mereka mencoba tramadol sebagai bentuk pencocokan diri dengan lingkungan sekitar. Kurangnya pemahaman mengenai tramadol sebagai obat keras yang hanya boleh digunakan dengan resep dokter menambah tingginya risiko penyalahgunaan obat ini.

Dr. Ngabila menekankan pentingnya kesadaran dini dan penanganan yang tepat untuk melindungi remaja dari risiko ketergantungan tramadol dan dampak buruk lainnya. Pencegahan penyalahgunaan obat ini memerlukan pendekatan yang holistik, melibatkan pemerintah, tenaga medis, serta orang tua.

Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada remaja mengenai bahaya penyalahgunaan tramadol. Mereka juga perlu menjaga komunikasi yang terbuka agar remaja merasa nyaman dalam berbicara tentang risiko penggunaan obat keras. Dukungan emosional dan lingkungan yang aman akan membantu remaja menghindari penggunaan obat sebagai pelarian dari masalah.

Pemerintah dan tenaga medis juga dapat membantu dengan menyediakan layanan konseling di sekolah atau komunitas, serta menawarkan kegiatan positif yang dapat mengurangi risiko penyalahgunaan obat, seperti olahraga, seni, atau kegiatan komunitas. Selain itu, edukasi tentang kesehatan mental dan kampanye anti-narkoba perlu digalakkan untuk mengurangi perasaan cemas dan depresi yang dapat mendorong penyalahgunaan obat.

Terakhir, penting untuk menerapkan aturan hukum yang tegas terhadap penyalahgunaan obat-obatan terlarang, namun tetap mengutamakan rehabilitasi bagi remaja yang sudah terlanjur terlibat, daripada hukuman yang keras. Dengan pendekatan yang menyeluruh, kita dapat melindungi generasi muda dari dampak buruk tramadol dan obat-obatan terlarang lainnya.