Jakarta, tiradar.id – Dalam era kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat, diet vegetarian semakin menjadi pilihan populer bagi banyak orang.
Apakah itu dipicu oleh dorongan pribadi atau kepercayaan agama, diet vegetarian memiliki banyak manfaat kesehatan yang telah ditemukan oleh para ahli kesehatan. Salah satunya adalah penurunan risiko terkena penyakit kardiovaskular.
Dr. Astrine Permata Leoni, seorang dokter spesialis gizi klinis dari Instalasi Pelayanan Gizi RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, mengungkapkan bahwa diet vegetarian dapat membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Ini terkait dengan fakta bahwa diet vegetarian biasanya tidak mengandung protein hewani yang tinggi lemak.
“Melalui diet vegetarian ini, karena tidak mengkonsumsi protein hewani, lemaknya otomatis, kan, turun. Konsumsi sayuran yang banyak diharapkan kebutuhan seratnya jadi bisa terpenuhi,” ucapnya.
Selain manfaat dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, diet vegetarian juga dapat membantu menurunkan indeks massa tubuh (IMT) dan mengatur kadar gula darah dalam tubuh.
Ada beberapa jenis diet vegetarian yang dapat dipilih sesuai dengan preferensi masing-masing individu. Ada lacto vegetarian, yang tidak mengonsumsi daging, ikan, unggas, dan telur tetapi masih mengonsumsi produk olahan susu.
Ada juga ovo vegetarian, yang tidak mengonsumsi produk susu tetapi masih bisa mengonsumsi telur. Selain itu, ada lacto ovo vegetarian yang tidak mengkonsumsi semua jenis daging, tetapi mengonsumsi telur dan susu.
Di sisi lain, vegan murni adalah mereka yang tidak mengkonsumsi daging, ikan, unggas, telur, susu, dan produk olahan susu lainnya. Ada juga semi vegetarian dan flexitarian yang masih sesekali mengonsumsi daging, ikan, unggas, dan produk olahan susu, tetapi dalam jumlah yang sedikit.
Meskipun diet vegetarian memiliki banyak manfaat, ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah pemenuhan zat besi dan kalsium. Meskipun protein nabati seperti bayam dan brokoli mengandung zat besi, nilai ketersediaannya lebih rendah daripada protein hewani seperti daging. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan kekurangan darah atau anemia.
Selain itu, orang yang menjalani diet vegetarian murni juga berisiko mengalami kekurangan kalsium dan vitamin D karena tidak mengonsumsi produk susu. Ini menjadi lebih penting bagi mereka yang tinggal di daerah dengan sinar matahari yang lebih sedikit.
Astrine menyarankan bahwa sebelum beralih ke diet vegetarian, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memastikan bahwa tidak ada masalah kesehatan yang dapat terpengaruh oleh diet ini. Juga, untuk yang ingin mencoba diet vegetarian, dapat memulainya dengan menjadi lacto ovo vegetarian, yang masih memungkinkan konsumsi telur dan susu sebagai sumber protein dan zat besi.
Selama menjalani diet vegetarian, penting untuk tetap aktif secara fisik, cukup minum air mineral, dan menghindari kebiasaan merokok. Namun, bagi lansia, diet vegetarian tidak selalu disarankan jika tidak ada kebutuhan khusus. Lansia membutuhkan asupan protein hewani yang lebih tinggi untuk menjaga masa otot dan kesehatan mereka.
Seiring dengan tren diet vegetarian yang semakin populer, penting untuk memahami manfaat dan tantangan yang terkait dengannya, serta selalu berkonsultasi dengan profesional kesehatan sebelum membuat keputusan tentang perubahan makanan yang signifikan. Yang terpenting, menjalani diet vegetarian dengan bijak dan seimbang dapat membantu menjaga kesehatan Anda dengan baik.