Ragam  

Waspada! Kebiasaan yang Berpotensi Merusak Kesehatan Otak

Ilustrasi Otak

Jakarta, tiradar.id – Di era modern ini, gaya hidup sering kali menyimpan kebiasaan yang dapat perlahan merusak kesehatan otak kita. Otak adalah organ yang kompleks dan vital, mengendalikan berbagai aspek kesejahteraan seperti pikiran, memori, emosi, dan fungsi tubuh. Namun, beberapa faktor dapat menyebabkan penurunan kesehatan otak secara bertahap.

Dalam wawancara dengan HT Lifestyle, Dr. Raghvendra Ramdasi, seorang Konsultan Bedah Saraf di Rumah Sakit Jaslok, Mumbai, mengungkapkan bahwa ia sering melihat pasien muda yang tanpa sadar merusak kesehatan otak mereka melalui kebiasaan tertentu.

Dr. Ramdasi menyebutkan beberapa kebiasaan umum yang merugikan, seperti kurang tidur, waktu layar yang berlebihan, kurangnya olahraga fisik, pola makan tidak sehat, stres, penyalahgunaan zat, dan multitasking.

“Kurang tidur dapat mengganggu fungsi kognitif, sementara makanan junk food tidak memberikan nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan otak,” jelasnya. Selain itu, stimulasi berlebihan dari perangkat digital dapat menyebabkan kelelahan mental, dan stres kronis diketahui dapat mengganggu memori dan fokus. Penyalahgunaan zat merusak koneksi saraf, sedangkan multitasking dapat menghambat pembelajaran mendalam dan kreativitas.

Dr. Vikram Huded, Kepala Departemen dan Direktur serta Pemimpin Klinis – Neurologi Intervensi di Grup Narayana, menambahkan bahwa kebiasaan buruk yang dimulai sejak usia dini memiliki efek jangka panjang terhadap kesehatan otak.

“Paparan berulang terhadap waktu layar, pola makan tidak sehat, dan kurang tidur dapat mengganggu perkembangan kognitif dan kadang-kadang menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat dipulihkan,” ungkapnya. Ia menyarankan agar orang tua memantau penggunaan layar anak, mendorong aktivitas fisik, dan memberikan diet seimbang yang kaya nutrisi penting.

Di sisi lain, Dr. Arvind Bhateja, Kepala Bedah Saraf dan Tulang Belakang di Rumah Sakit Sparsh, menyoroti dampak kebiasaan yang mempercepat penuaan otak pada orang dewasa usia 40 hingga 50 tahun. Kualitas tidur yang buruk, tingkat stres tinggi, dan gaya hidup sedentari merupakan penyebab utama.

“Stres kronis meningkatkan kadar kortisol yang dapat mengecilkan area otak terkait memori dan kognisi. Kurang tidur mengganggu kemampuan otak untuk memperbaiki diri, sedangkan kurangnya olahraga mengurangi aliran darah ke area kritis,” jelasnya.

Dr. Bhateja menyarankan agar individu dalam kelompok usia ini memprioritaskan tidur yang berkualitas, mengelola stres melalui mindfulness, dan terlibat dalam aktivitas fisik secara teratur. Perubahan ini dapat memperlambat penuaan otak dan menjaga kesehatan kognitif secara signifikan.

Dengan mengadopsi kebiasaan sehat dan menghindari perilaku yang merugikan, kita dapat melindungi kesehatan otak dan mempromosikan ketahanan kognitif jangka panjang. Konsistensi dalam pola hidup sehat adalah kunci untuk menjaga fungsi otak yang optimal sepanjang hidup.

Sumber: ANTARA