Sastra  

Menggali Makna Kata “Ewe” dalam Bahasa Sunda

Potret pemukiman suku Baduy di Kabupaten Lebak Banten. (tripadvisor.com)

Jakarta, tiradar.id – Beberapa warga di Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, memiliki kebiasaan unik dalam memanggil istri mereka dengan sebutan “ewe”. Namun, bagaimana sebenarnya kata “ewe” ini dipahami dari perspektif bahasa dan budaya Sunda?

Menurut penjelasan dari Praktisi Budaya Sunda, Ari Andriansyah, pada masa lalu, kata “ewe” adalah kata yang biasa digunakan oleh masyarakat Sunda, terutama suku Baduy di Banten, untuk menyebut perempuan yang sudah memiliki suami. Demikian seperti yang dilansir dari laman detikJabar.

Kata ini merupakan bagian dari bahasa sehari-hari dan tidak memiliki konotasi negatif seperti yang mungkin dianggap di daerah lain, sementara untuk wanita yang belum bersuami disebut sebagai “awewe”.

Ari menjelaskan bahwa pasangan suami istri dalam budaya Baduy disebut “ewe salaki” untuk suami dan “ewe” untuk istri. Ini adalah istilah yang sudah digunakan sejak zaman Kerajaan Padjadjaran.

Namun, Ari mengamati bahwa perubahan zaman dan minimnya pengetahuan tentang budaya Sunda pada generasi saat ini menyebabkan kata “ewe” terdengar aneh atau bahkan tabu bagi sebagian orang. Belum ada kepastian kapan kata ini mulai dianggap tabu dalam masyarakat.

Di sisi lain, bagi masyarakat Sunda sendiri, hubungan suami istri atau hubungan intim dikenal dengan istilah “sapatemon”. Namun, pengetahuan tentang budaya ini masih kurang tersebar luas di kalangan masyarakat umum.

Terkait dengan penggunaan kata “ewe” di Indramayu, Ari menekankan pentingnya mengkaji sejarahnya dan apakah kata tersebut merupakan serapan dari daerah atau budaya lain. Sebab, penggunaan kata ini di Indramayu memiliki makna yang berbeda dan bisa menyebabkan kesalahpahaman di daerah lain.

Perbedaan persepsi tentang kata “ewe” antara Indramayu dan daerah lain seringkali menyulitkan komunikasi antarbudaya. Hal ini terjadi ketika rombongan dari Lelea bertemu dengan warga Bandung, yang menunjukkan betapa pentingnya pemahaman akan perbedaan budaya dalam berkomunikasi lintas wilayah.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang asal usul dan makna kata “ewe” dalam konteks budaya Sunda, diharapkan dapat mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan toleransi antarbudaya di Indonesia.

Sumber: detikJabar