Iran Balas Serangan AS dengan Tembakkan 20 Rudal ke Israel, Suasana Panik Melanda

Arsip foto - Petugas penyelamat mencari warga pada bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel di Teheran, Iran (13/6/2025). ANTARA/Xinhua/Stringer/aa.

Teheran/Jerusalem, tiradar.id— Ketegangan di Timur Tengah memanas setelah Iran meluncurkan sekitar 20 rudal ke wilayah tengah dan utara Israel pada Minggu (22/6) pagi. Aksi ini merupakan balasan atas serangan udara Amerika Serikat yang menghantam tiga situs nuklir utama Iran sehari sebelumnya.

Militer Israel mengonfirmasi adanya serangan rudal dari Teheran. Ledakan keras menggema di berbagai penjuru negeri, termasuk di kota Haifa dan wilayah Shfela, di mana satu orang dilaporkan terluka. Otoritas layanan darurat Israel, Magen David Adom (MDA), menyatakan sedang menuju sedikitnya 10 titik lokasi jatuhnya rudal.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan bahwa beberapa gelombang rudal tambahan menyusul kemudian, memicu sirene peringatan di wilayah utara Israel. Sistem pertahanan udara Israel langsung dikerahkan untuk menghalau ancaman tersebut.

Menurut Otoritas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Israel, serangan menyebabkan kerusakan signifikan pada sejumlah bangunan dan kendaraan di distrik Coastal, Central, dan Dan. Tim darurat dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak untuk mengatasi kebakaran dan melakukan evakuasi.

Serangan rudal ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa negaranya telah melakukan “serangan yang sangat berhasil” ke tiga situs nuklir Iran: Fordow, Natanz, dan Esfahan. Trump mengklaim seluruh pesawat tempur AS kembali dengan selamat dan menyebut aksi tersebut sebagai “momen bersejarah bagi AS, Israel, dan dunia.”

Menanggapi hal ini, Organisasi Energi Atom Iran mengecam keras pengeboman terhadap fasilitas nuklirnya dan menuduh tindakan tersebut melanggar hukum internasional. Dalam pernyataan resminya, badan tersebut menyayangkan sikap Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang dinilai abai terhadap pelanggaran tersebut.

“Masyarakat dunia diharapkan mengutuk tindakan ilegal ini yang didasarkan pada logika kekerasan,” tegas lembaga tersebut. Meski tidak secara eksplisit mengancam serangan lanjutan, Iran menegaskan bahwa pengembangan industri nuklirnya akan terus berlanjut berkat dedikasi para ilmuwan yang disebut sebagai “revolusioner dan termotivasi.”

Ketegangan antara AS, Iran, dan Israel kini memasuki babak baru yang dikhawatirkan bisa berkembang menjadi konflik berskala lebih luas. Masyarakat internasional pun menyerukan deeskalasi dan upaya diplomasi demi menghindari krisis kemanusiaan lebih lanjut di kawasan tersebut.