Jakarta, tiradar.id – Jubah mandi, seperti pakaian lainnya, dapat mengakumulasi kotoran, minyak, dan penumpukan dari kulit saat dipakai.
Menurut pakar dermatologi di Cornell-New York Presbyterian Medical Center, Marisa Garshick, MD, kondisi ini dapat menyebabkan iritasi atau jerawat pada kulit, terutama pada bagian punggung.
Sama halnya dengan kaus atau kaus kaki, jubah mandi bisa menjadi sumber bau tidak sedap dan membuat tubuh terasa kurang segar.
“Jika Anda mengenakan sesuatu yang kotor setelah mandi, hal itu dapat menggagalkan tujuan mandi, yaitu membersihkan kulit,” kata Garshick seperti dilansir Livestrong pada akhir November lalu.
Menariknya, virus pernapasan dapat bertahan berhari-hari di pakaian, dan bakteri penyebab diare bahkan bisa bertahan berminggu-minggu. Jubah mandi, dengan lingkungan hangat dan lembap di kamar mandi, mungkin menjadi tempat berkembang biak yang lebih baik bagi kuman dibandingkan pakaian lainnya.
Lalu, seberapa sering seharusnya kita mencuci jubah mandi? Jika seseorang menggunakan jubah mandinya sesaat setelah mandi sebelum berpakaian, seperti menggunakan handuk, mencucinya setiap tiga hingga lima kali penggunaan mungkin sudah cukup.
Namun, jika penggunaan jubah mandi lebih sering atau lebih lama, disarankan untuk mencucinya lebih sering. Terutama jika jubah dipakai saat memasak atau makan, di mana partikel makanan dapat menempel pada kain jubah.
Dalam hal mencuci, jubah mandi dapat dibersihkan dengan siklus pencucian biasa menggunakan air dingin tanpa perlu pemutih atau pelembut kain. Menjaga kebersihan jubah mandi adalah langkah kecil namun penting untuk mendukung tujuan mandi yang sehat dan memberikan rasa kenyamanan setelah aktivitas harian.


