Puncak Elektabilitas Capres Jelang Pemilu 2024

KPU Resmi tetapkan nomor urut pasangan capres-cawapres 2024
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hasyim Asy'ari (tengah) bersama anggota KPU dan Capres-Cawapres peserta Pemilu 2024 berfoto bersama saat Rapat Pleno Terbuka Pengundian dan Penetapan Nomor Urut Pasangan Capres dan Cawapres Pemilu Tahun 2024 di Gedung KPU, Jakarta, Selasa (14/11/2023). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aa.

Jakarta, tiradar.id – Pada Desember 2023, hasil survei Litbang Kompas menggambarkan posisi Prabowo Subianto sebagai calon presiden (Capres) dengan elektabilitas tertinggi. Dalam survei tersebut, Prabowo berhasil meraih dukungan sebanyak 39,7 persen dari total responden, menjadikannya pemimpin yang diminati di kalangan pemilih.

Menurut informasi yang dikutip dari Harian Kompas, elektabilitas Capres nomor urut 3, Ganjar Pranowo, mencapai 18 persen, sedangkan Capres nomor urut 1, Anies Baswedan, tercatat dengan elektabilitas 17,4 persen. Prabowo Subianto mengalami peningkatan elektabilitas dibandingkan dengan survei sebelumnya pada bulan Agustus.

Pada survei Agustus 2023, elektabilitas Prabowo berada pada angka 31,3 persen, menunjukkan adanya pertumbuhan signifikan dalam dukungan publik. Sementara itu, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan mengalami penurunan elektabilitas dari hasil survei sebelumnya.

Ganjar, yang sebelumnya memimpin dengan selisih tipis atas Prabowo, kini mengalami perubahan posisi, dengan Prabowo unggul sejauh 21,7 persen. Di sisi lain, jarak elektabilitas antara Anies dan Prabowo semakin melebar, dari 12,1 persen pada Agustus menjadi 22,3 persen pada Desember.

Menurut Peneliti Litbang Kompas, Bambang Setiawan, pergeseran dukungan terutama terjadi di kalangan pemilih PDI-P dan pemilih yang sebelumnya mendukung Jokowi. Hasil survei ini memberikan gambaran dinamika perubahan dukungan masyarakat yang patut diperhatikan menjelang Pemilihan Presiden 2024.

Survei ini dilaksanakan secara tatap muka pada periode 29 November hingga 4 Desember 2023, melibatkan 1.364 responden yang dipilih secara acak dari 38 provinsi di Indonesia. Dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,65 persen, hasil survei ini dianggap sebagai cerminan yang kuat tentang pandangan masyarakat terhadap calon presiden dan dinamika politik di Tanah Air.